theme
A.Dwi.D
Dreamer !

ge-story:

Saat awan mendung dan mulai menitikkan air, kulihat seorang wanita memakai kaos berwarna biru, dengan flanel abu, bercelana panjang dan mengenakan wedges, berlari menuju kedai kopi. Dia langsung duduk di meja nomor 8. Aku memerhatikannya dibalik meja nomor 3. Terdengar dia memesan secangkir kopi Cappuchino hangat. Setelah kopi ada di hadapan, Dia mulai meneguk dengan perlahan.

Read More

" I wish you would stay home long enough to see how broken I am. Maybe then you’d see what you were doing to me, maybe then I wouldn’t feel so alone. "
" sayang itu penting, tapi lebih penting harga diri. "
- fiansyah (via diimadimo)
" Jika kau gagal, kau hanya punya 2 pilihan : jadi lebih kuat dari sebelumnya atau jadi lebih lemah dari sebelumnya. Selamat sore & #StayAwesome "
- Ardiansyah (via diimadimo)

Kita pernah punya cinta. Cinta penuh kepalsuan. Dan cinta yang berakhir tanpa rasa.

Dulu, aku kamu saling mencintai tapi kita tak pernah punya status. Terus saja berjalan bersama tanpa tau sebenarnya apa arti kebersamaan kita.

Hari demi hari kita terus bersama, melepaskan tawa tanpa beban. Saling menyayangi, memberi perhatian layaknya pasangan yang sedang merajut cinta.

Sampai pada akhirnya, kita tersadar layakkah kita bersanding?

”Cinta kita terlarang” katanya.

Tapi meski terlarang aku masih setia mununggumu mengucapkan kata ”aku mencintaimu”. Aku pun masih setia menunggumu berbicara pada Tuhanmu di tempat suci mu.

Kamu ? Aku rasa kamu setia. Betapa sabar nya kamu ketika aku harus menjalankan perintah Tuhanku.

Tapi, apa yang membuatmu tak segera mengucapkan kata itu? Bodohnya aku ketika aku harus bertanya itu. Jelas saja karena Tuhan kita berbeda.

Suatu hari, kamu pergi entah kemana. Aku mencarimu. Saat itulah aku merasa kehilangan sosokmu, sosok yang slalu mengisi hariku.

Aku tetap setia menunggu. Menunggu hal yang tak pasti.

DESEMBER aku melihatnya di kalender. Aku lingkari tanggal 25 dengan tinta merah meskipun sebenarnya tanggal itu berwarna merah tapi aku ingin mengingat. Katamu kamu suka dengan tanggal itu. Natal. Iya hari raya mu. Mungkin aku akan melihatmu lagi di hari itu.

Hari ini, aku berniat berias yang cantik untuk kamu. Untuk hari yang kamu suka. Untuk bertemu dengan laki-laki yang aku kagumi. Aku datang kerumahmu, kosong. Mungkin belum pulang dari gereja tapi ini sudah siang mana mungkin dia belum pulang.

Kecewa rasanya, aku memutuskan untuk pulang. Lelah aku berjalan. Aku duduk dikursi putih dibawah pohon rindang. Sepi hanya suara angin dan dedaunan yang terbawa angin. Aku melamun membayangkan apa yang harusnya terjadi hari ini. Lalu, lamunanku terganggu oleh tangan yang mencoba mengenggamku. Sosok disampingku, gagah dengan jas hitam, orang yang kukagumi, kamu.

”Aku mencarimu” katamu

”Aku juga mencarimu” jawabku.

"Jangan katakan apa-apa tentang natal. Jangan pula kamu ucapkan selamat natal untukku. Aku menghargaimu"

"Aku mengerti, tapi….”

"Aku pergi, menghilang dari kamu karna aku tau cinta kita terlarang. Aku mengerti, di agamamu kita tak sepantasnya bersama. Sakit memang, tapi aku tak bisa berbuat apa2"

Aku masih diam menatapnya, kamu melanjutkan pembicaraanmu

"Aku mencintaimu. Tapi aku tak bisa bersanding dipernikahan bersamamu"

kita saling menatap. Aku terus saja menangis. Kamu membuka kotak yang kamu bawa. Kerudung putih. Terlihat suci seperti mukena ku. Kamu pakaikan itu. Lembut.

"Pakai ini karna Tuhanmu. Kamu akan menemukan laki-laki yang pantas menjadi imam dalam sholatmu dan aku yakin kamu akan terlihat cantik memakai ini"

Kamu mengusap airmataku dengan tanganmu yang selalu menjagaku setiap harinya.

”Aku mencintaimu. Terimakasih perhatian yangg slalu membuatku tersenyum, perdulimu yang membuatku tenang dan semua yang kamu berikan untukku”

Hanya senyum yang tergambar dari lengkungan bibirmu.

"Pulanglah. Aku akan mengantarmu”

Diam tak ada kata diperjalanan kita. Kamu mulai bicara hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Cukup aku mengangguk dan masuk kerumah mungilku.

Setelah hari itu, aku tak pernah lagi berjalan bersamamu, tak mendapat perhatianmu, dan perdulimu dalam menjagaku.

Namun sapaan kamu yg membuatku tegar setiap harinya. Aku masih menyelipkan namamu disetiap doaku kepada Tuhanku.

Aku mencintai perbedaan tapi aku membenci perbedaan yang ini. Perbedaan dalam menyebutkan nama Tuhan kita.

Utik - A.Dwi.D